Pages

Tuesday, January 29, 2013

Hari 23: Sukacita

Tadinya kenikmatan ini mau kutunda hingga tengah hari, namun rupanya aku tidak begitu mahir menahan diri.

Selalu ada yang pertama kali untuk segala hal. Aku tahu bahwa aku harus memberanikan diri, maka itulah yang kuputuskan untuk kulakukan.

Rasanya seperti melayang, padahal aku baru saja memulai. Seolah ada sesuatu yang tajam melesat naik ke kepalaku, membuatnya terasa ringan. Mengejutkan, tapi sekaligus melegakan. Penciuman pun rasanya jadi lebih peka, membuatku mulai mampu menikmati aroma yang menguar.

Sudah sampai di sini, aku tak bisa berhenti. Aku sudah terlalu rakus dan tidak lagi peduli dengan pentingnya mengendalikan diri. Sekarang yang bisa kulakukan hanya menyerah pada keinginan untuk terpuaskan.

Untung aku tak lupa membungkusnya sebelum mulai menikmatinya, kalau tidak, bisa jadi akan lain rasanya.

Sesaat aku ragu. 

Saat membicarakan hal ini, dunia selalu mengisyaratkan adanya kenikmatan tak terbantahkan. Tapi mengapa kini aku malah tak bisa menahan air mata? Lagipula, sensasi yang kini kualami tak lepas dari rasa tidak nyaman.

Masa bodoh. Ini menyenangkan. Dan aku ketagihan.

Di tengah-tengah semua ini, kau bertanya, "kenapa nangis?"

Senyumku tergurat jelas di mataku yang basah. Kutunjukkan padanya apa yang kupunya dalam genggaman.

"Ada wasabi dalam onigiri ini."

No comments:

Post a Comment