Pages

Thursday, November 28, 2013

Tentang Ramal-Meramal (Bagian I)

Penafian: Kalau nggak percaya ramalan, bacanya sampai sini aja, ya. :p

Suatu hari, gue dihadapkan dengan pertanyaan yang agak mengusik.

"Kenapa sih, cewek percaya banget sama yang namanya ramalan?"

Spontan, gue bilang, karena penasaran. Manusia boleh bercita-cita, tapi mereka nggak mungkin tahu pasti mereka nantinya jadi apa. Malah, gue menduga kalau lagu Que Sera Sera itu ditulis sama seseorang yang sudah terlalu bingung, akan jadi apa dirinya kelak. Mungkin, kalau diciptakan di zaman sekarang, judul lagunya bakal jadi "Yaudahlah Ya."

Kembali ke rasa ingin tahu. Pada umumnya, hal inilah yang mendorong seseorang, bukan hanya kaum perempuan, untuk berupaya mencari jawaban. Upaya ini rupa-rupa macamnya; mulai dari mengacungkan tangan waktu guru menerangkan pelajaran, memanfaatkan situs pencari, sampai diam-diam memantau akun media sosial pihak yang jadi incaran. Ramalan, bagi sebagian kalangan, dipandang sebagai salah satu sumber jawaban.

Buat gue pribadi, ramal-meramal adalah sekadar senang-senang. Biarpun menyadur rubrik ramalan bintang pernah jadi bagian dari pekerjaan gue, dan gue nggak jarang mengisinya dengan karangan bebas semata, horoskop adalah salah satu rubrik favorit gue sejak SMP. Selain itu, gue suka buka situs fortune cookie generator, pernah coba meramal peruntungan lewat nama di sini dan dibilang kalau gue cocoknya jadi detektif, juga iseng ngetes kecocokan horoskop gue dan pasangan. Benar atau tidaknya, lihat saja nanti. 

Di lain pihak, ramal-meramal nggak hanya sebatas urusan peruntungan di masa depan. Lewat berbagai metode, mulai dari astrologi, tarot, garis tangan, dan macam-macam lagi, karakter seseorang pun bisa dianalisa lewat penerawangan para ahli nujum, bahkan program komputer. Jasa meramal pun seringkali tidak ditawarkan dengan gratis, apalagi kalau pembacaan dilakukan secara personal dan terperinci.

Menurut gue, seseorang nggak hanya punya rasa ingin tahu terhadap keadaan sekelilingnya, tapi juga dirinya sendiri. Makanya, pembacaan karakter pribadi lewat metode-metode ramalan punya daya tarik tersendiri buat gue. Biasanya, gue coba juga mencocokkan hasil-hasil pembacaan itu dengan hasil tes psikologi (I am an INTP, by the way), maupun keadaan diri sendiri secara empiris, dan ternyata lumayan banyak benarnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Beberapa waktu lalu, dalam rangka menulis tentang tren jasa astrologi, gue mewawancara tiga orang pakar ramal-meramal dengan bidang keahlian masing-masing: pembaca karakter lewat horoskop, pembaca kartu tarot dan garis tangan, serta pembaca aura.

Secara garis besar, ketiganya punya kesamaan: karena hasil pembacaan mereka bisa dijelaskan dengan logika, bahkan bisa diperbandingkan keakuratannya dengan tes psikologi pada umumnya, mereka enggan dianggap bahwa ramalan adalah hal yang klenik atau mistis. Apalagi, dua di antaranya tidak menawarkan jasa ramal nasib, melainkan murni menganalisis kepribadian.

Sebagai seseorang yang sudah mencoba sendiri jasa mereka, gue mengakui hal ini. Gue nggak kesulitan memahami analisis mereka, ataupun terheran-heran dari mana mereka bisa mendapatkan hasil pembacaan itu. Paling-paling, gue dibuat bengong ketika apa yang mereka paparkan ternyata memang benar, padahal mereka semua belum pernah ketemu gue sebelumnya. 

Dengan adanya hal-hal yang sesuai sama kondisi nyata, hasil bacaan ketiga ahli ramal ini pada akhirnya gue manfaatkan sebagai bahan refleksi diri, sekaligus langkah awal untuk berusaha ‘memerbaiki’ masa depan. Karena, menurut sang pembaca aura, masa depan seseorang sangat mungkin berubah, tergantung dari apa yang dilakukannya saat ini. 

Menilik hasil analisis karakter, khususnya lewat pembacaan horoskop dan aura, rasanya seperti membaca buku panduan tentang diri sendiri. Kesempatan untuk lebih mengenali dan memahami diri sendiri turut membantu gue menerima segala "kelebihan" dan "kekurangan" pribadi. Meminjam kata-kata sang pembaca karakter, perbaikilah apa yang bisa diperbaiki, tapi jangan terlalu keras pada diri sendiri, karena kita tidak harus bisa melakukan segalanya.

Untuk soal ramalan nasib, gue berusaha santai-santai saja, meskipun hasilnya berhasil bikin gue girang sekaligus gentar. Sang pembaca tarot, yang sempat memeriksa garis tangan kiri gue dan memaparkan beberapa hal terkait masa depan, juga mengingatkan hal yang sama. Dia bilang, seorang peramal hanya bisa membacakan apa yang dilihatnya, dengan tujuan semata-mata membantu kliennya memberdayakan diri mereka sendiri. 

Pada akhirnya, percaya tidak percaya, ramalan akan selalu dicari oleh orang-orang yang dirundung rasa ingin tahu. Ke mana mereka memilih untuk bertanya, itu adalah pilihan mereka sendiri. 

No comments:

Post a comment