Pages

Friday, January 11, 2013

Hari 5: Sonya dan Skripsinya

Barusan kau bilang, kau rindu masa lalumu. Menjadi anak sekolah rasanya begitu mudah, dan tanggung jawab yang kau punya sebatas menyelesaikan pekerjaan rumah tepat waktu. Di saat bersamaan, mereka yang lebih muda tak sabar berada di posisimu. Sonya adalah salah satu dari sekian banyak yang begitu.

“Hidup baru dimulai ketika skripsi selesai,” begitu kata banyak kakak kelasnya. Sonya memercayainya, namun dulu sulit baginya untuk memahami pernyataan itu. Ia akan berusia dua puluh empat  tahun pekan depan, tak peduli skripsinya masih belum rampung hingga sekarang.

Sonya adalah mahasiswa tingkat akhir, dengan perpanjangan waktu. Teman-teman seangkatannya sudah menamatkan kuliah sejak dua tahun lalu.

Sebelumnya, Sonya tak begitu peduli soal tidak lulus tepat waktu. Memang pilihannya untuk memertahankan status mahasiswa lebih lama, demi dapat menikmati lebih banyak kegiatan khusus pelajar dan pemuda. Dengan menjadi entitas sebuah institusi pendidikan, peluangnya mendapat bantuan dana dari pihak ketiga untuk mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler pun menjadi lebih besar. Maklum, ayahnya hampir tak pernah merestui kegiatannya di luar kuliah, karena dianggapnya hanya membuang-buang waktu.

Namun, kini Sonya mulai jemu, dan iri pada teman-temannya yang sudah bisa mencari penghidupan sendiri. Saat berulang tahun ke-23 tahun lalu, Sonya berkontemplasi panjang lebar akan apa yang ia inginkan untuk masa depannya. Kesimpulannya satu: ia harus lulus kuliah dulu, segera.

Setiap orang punya beban tersendiri dalam hidupnya. Mungkin karena itulah Plato berkata, bersikap baiklah pada semua orang yang kau temui, karena setiap dari mereka tengah berjuang dalam medannya sendiri. Begitu pula Sonya.

Tak banyak yang tahu, bahwa Sonya adalah putri semata wayang seorang pengusaha es krim rumahan. Di kota tempatnya berasal, citarasa pencuci mulut buatan keluarganya sudah familiar di lidah hampir semua orang. Toko Wien, yang menjual minuman dan penganan ringan namun populer karena es kopyornya, diwarisi sang ayah dari orangtuanya, yang memulai bisnis itu di tahun 1950-an. Selain dapat dinikmati di toko, es krim buatan keluarganya juga dijajakan keliling dengan sepeda setiap siang hingga sore hari.

Sebagai satu-satunya pewaris generasi ketiga, Sonya mulai merasakan beban tanggung jawab untuk meneruskan bisnis keluarga sejak ia masuk SMA. Desakan itu semakin kuat menjelang ia lulus, saat hampir semua anggota keluarga mendorongnya untuk masuk fakultas ekonomi. Padahal, Sonya benci berhitung, dan lebih senang menulis. Setelah pertengkaran-pertengkaran alot dengan sang ayah, akhirnya tercapailah sebuah persetujuan: Sonya akan kuliah komunikasi bisnis, dan setelah lulus, ia akan mendampingi sang ayah untuk mengurus bisnis keluarga. Ayahnya baru akan pensiun begitu Sonya dirasa telah siap.

Di lain pihak, Sonya hampir yakin ia tak akan pernah siap untuk membuat bisnis keluarga itu tetap berdetak. Ia merasa nasibnya tak jauh beda dengan Mia Thermopolis, sang pewaris tahta kerajaan Genovia di serial The Princess Diaries.

Sesungguhnya, Sonya bukan tidak suka berjualan es krim. Justru, Toko Wien adalah tempat favoritnya sejak kecil. Ia hanya takut. Toko Wien sudah bertahan selama dua generasi, bagaimana jika justru di tangannya usaha itu mati?

Mungkin, karena itu pula, Sonya jadi banyak menunda-nunda, sehingga kuliahnya hingga sekarang belum tamat juga.

“Masalahnya bukan kamu mampu atau tidak, tapi kamu mau atau tidak?” begitu kata ayahnya liburan akhir semester lalu. Saat itu, Sonya kembali berkata bahwa ia baru akan mendedikasikan waktunya di Toko Wien setelah kuliahnya selesai, karena ia tidak bisa menjalankan bisnis sambil mengerjakan skripsi, membuat ayahnya marah sekali. Tak lama setelah pertengkaran itu, ayah Sonya terkena stroke.

Sonya ada di samping tempat tidur rumah sakit ketika ayahnya sadar. Saat itu, pertanyaan pertama sang ayah adalah, “Bagaimana skripsi kamu?” dan Sonya hanya dapat memjawabnya dengan senyum hampa.

Tiga bulan sudah berlalu sejak saat itu. Ayah Sonya sudah mulai pulih, setelah sebelumnya lumpuh separuh badan. Begitu ayahnya dirawat di rumah sakit, Sonya berinisiatif mengambil kendali Toko Wien yang dipegang ayahnya, dengan didampingi asisten kepercayaan sang ayah yang mengurusi perihal operasional.

Hari-hari yang kemudian dilaluinya mengingatkan Sonya pada kerja magang, di mana ia belajar lewat tindakan nyata, namun kali ini dengan memanggul tanggungjawab yang besarnya tak main-main. Kadang harinya tidak berjalan mulus, namun Sonya tak pernah tidak pulang dari toko dengan senyum lega. Satu hari lagi berlalu, dan aku masih bertahan. Besok aku pasti bisa melakukannya lagi. Ia lalu akan menghabiskan malam dengan mengerjakan skripsi hingga dini hari.

Tak peduli betapa menyenangkannya menjadi mahasiswa, Sonya sadar bahwa setiap hal punya masa kedaluarsa. Sesuatu yang sudah dimulai harus dikerjakan sampai selesai, begitu ayahnya selalu berkata, dan prosesnya adalah sebuah perjuangan yang harus dimenangkan.

Hampir enam tahun sudah dihabiskannya untuk sembunyi dari Toko Wien yang menanti untuk diwarisi. Kini, saat tiba di sana setiap pagi, Sonya seolah diingatkan kembali akan hidup barunya yang telah menanti.

Ia melirik jam dinding di atas meja belajarnya. Hari sudah berganti. Ini hari Jumat, pukul tiga pagi, dan ia masih larut dalam revisi skripsi.

Sebentar lagi, gumam Sonya, tersenyum dalam hati.

No comments:

Post a comment