Pages

Sunday, August 18, 2013

Keputusan

Tiba-tiba semuanya gelap. Sekeping kenangannya mencuat ke permukaan, terulang tanpa permisi.

“Kamu berharap aku menyerah, ya?”

“Iya.”

“Aku juga. Toh, salah satu dari kita harus menyerah pada akhirnya.”

Ia teringat senyum itu, yang menghangatkan seluruh penjuru hatinya sampai nyaris luluh. Ia harus segera menghentikannya.

“Aku bukan alasan bagus untuk diperjuangkan, tidak seperti kemerdekaan...”

“Bukan kemerdekaan, tapi kebahagiaan.”

“Kalau kamu sendiri tidak bisa membuat dirimu bahagia, tidak akan ada yang bisa. Lagipula, kita terlalu berbeda…”

“…tapi aku cinta. Lantas harus bagaimana?”

Matahari menyusup dari jendela, mengakhiri tidurnya. Ditatapnya sosok yang terpejam pulas di sampingnya. Ia tak menyangka akan sebahagia pagi ini.

No comments:

Post a Comment